Tampilkan postingan dengan label essai buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Menerapkan "Jam Wajib Baca"


M.Yusuf Amin N

Kita menyadari bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Keyakinan tersebut kiranya tidak perlu lagi dibuktikan dengan angka statistik hasil penelitian. Mengamati orang-orang di sekitar kita—dan barangkali juga diri kita sendiri—sudah lebih dari cukup untuk membuktikan hal tersebut. Betapa televisi di rumah-rumah hampir menyala sepanjang waktu. Betapa anak-anak di sekitar kita lebih senang menghabiskan waktunya di depan layar kaca, bermain play stasion, sementara para remaja lebih memilih ngeceng di mall, ibu-ibu nggosip di warung, guru-guru lebih suka berceramah dan ngrumpi soal kenaikan gaji, bapak-bapak khusuk mendengarkan radio sambil mungkin membayangkan betis kendedes. Akibat dari minat membaca yang rendah ini juga jelas: orang-orang memiliki daya kritis dan imajinasi yang pendek, wawasan pengetahuan yang dangkal, suka ngomel-ngomel, dan tidur di depan televisi dengan lambung yang kenyang.
Ada saja yang dikambing hitamkan dengan kenyataan soal minat baca ini, semisal pemerintah yang sibuk berpolitik, buku yang mahal, guru yang tidak kreatif, orang tua yang jor-joran—dan tiada seorang pun merasa patut disalahkan.
Sekian usaha telah dilakukan untuk mendongkrak minat baca, tentu. Mulai dari meniadakan pajak penerbitan buku, subsidi buku ke sekolah-sekolah, buku elektronik yang gratis, dibukanya rumah baca di kampung-kampung, seminar dan diskusi, juga melalui tulisan semacam ini.
Dan kita yakin, meski lemot, usaha-usaha tersebut sedikit demi sedikit mulai membangkitkan kelesuan minat baca.
Minat baca memang selayaknya dipancing sejak dini, sejak masih dalam bayi kandungan. Ibu hamil yang senang membaca, suami yang membacakan al-Qur’an atau buku di depan perut istrinya yang membengkak, barangkali akan mempengaruhi si janin. Tetapi tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika bayi-bayi jebrol lahir, mereka akan melihat nyata aktifitas yang dilakukan kedua orangtuanya, dan mereka sangat tergoda untuk menirunya. Dan ketika bayi-bayi tadi bertambah usia, kemudian sekolah, maka guru-guru kudu kreatif membimbing mereka mencintai buku dan membaca. Jadi, penanaman minat baca memang tidak bisa berjalan setengah hati, mood-mood-an, melainkan harus terus dipupuk seiring pertumbuhan.
Minimnya buku bacaan di sekolah-sekolah memang merupakan penghambat besar tumbuhnya minat baca, khususnya di kalangan siswa. Saya memiliki pengalaman khusus soal ini. Tahun 2007, ketika saya baru menyelesaikan studi di Jogja, saya bergabung bersama kawan-kawan guru di sebuah sekolah formal tapi swasta. Sekolah tersebut, sungguh memprihatinkan. Waktu itu baru ada kelas VIII dan VIII dengan siswa yang semuanya berjumlah sekitar 20 anak. Selain tidak memiliki gedung sendiri dan hanya menempati rumah warga yang mau ambruk, sekolah tersebut tentu juga “jelas” tidak memiliki perpustakaan. Memang ada beberapa buku paket yang lusuh, lungsuran dari sekolah lain, yang ditaruh di sebuah ruang ukuran 2x1,5 meter, tetapi itu sama sekali tidak mendukung proses pembelajaran, alih-alih memancing siswa untuk tertarik membaca.
Lalu saya berinisiatif membawa satu dus berisi buku-buku bacaan yang saya miliki dalam kegiatan pembelajaran. Para siswa saya suruh memilih buku bacaan yang mereka sukai, memberikan waktu 10-15 menit untuk membacanya, sebelum pelajaran yang sesuai silabus dimulai. Saya bisa dengan jelas melihat kegembiraan pada raut wajah polos anak-anak kampung itu.
Saya menamai kegiatan itu dengan “jam wajib baca”. Semua anak membaca, tak ada yang bicara kecuali bicaranya itu adalah melafalkan kata-kata di buku (hemm, memang begitu anak-anak, khususnya yang jarang membaca: Mereka tidak terbiasa membaca dalam hati). Selain “jam wajib baca” di saat jam resmi proses pembelajaran, saya juga mengadaan ekstra “membaca”. Hujan-hujan anak-anak menjemput saya di rumah dengan payung, dan saya terharu melihat gairah mereka.
Sekolahan tempat saya mengabdi tersebut kemudian memiliki gedung baru dengan tiga ruang, dan saya terpaksa harus pindah ke sekolah lain karena beberapa hal. Di sekolah tempat saya sekarang mengabdi, yakni MTs Negeri Wonosobo, saya kembali menggulirkan program “jam wajib baca” tersebut. Bedanya, saya tidak harus repot-repot membawa dus berisi buku, karena di sekolahan saya itu sudah ada perpustakaan yang menyediakan ribuan buku paket dan ratusan buku bacaan. Mula-mula saya wajibkan mereka memiliki kartu perpustakaan. Lalu, saya suruh mereka wajib meminjam buku bacaan dan membawanya masuk kelas pada saat pelajaran fiqih. Yang meminjam saya beri nilai, sementara yang tidak saya suruh keluar untuk terlebih dulu meminjam buku sebagai syarat mengikuti pelajaran.
Mapel yang saya ajarkan memanglah Fiqih, tetapi anak-anak justru saya anjurkan untuk meminjam buku bacaan (sastra, filsafat, agama, budaya, majalah, dsb), bukan buku paket. Karena menurut saya, para siswa sudah terlalu capek menghadapi buku paket disebabkan buku-buku tersebut cenderung menggunakan bahasa yang kaku. Selain itu, bukankah anak-anak juga penting untuk mengetahui apa yang tidak diajarkan oleh guru mereka?
Hasilnya, buku-buku bacaan di perpustakaan sekolah kami ludes dipinjam setiap kali pelajaran menjelang pelajaran Fiqih kelas VIII di mulai.
Apa yang saya lakukan mungkin sejenis pemaksaan! Lebih-lebih ada ancaman “tidak mendapat nilai” bagi yang tidak meminjam buku. Memang begitu. Saya memaksa mereka, dengan maksud yang mulia. Kadang-kadang siswa tidak doyan membaca karena mereka belum tahu bahwa membaca itu merupakan hal yang nikmat, lebih lezat dari sosis atau batagor. Saya memaksa dengan tujuan memberi tahu kepada mereka dengan menyuruh mereka merasakan langsung, bahwa ada banyak hal menarik dan baru yang akan dijumpai di buku-buku yang mereka baca. Bukankah orang yang shalat kadang-kadang belum bisa menikmati indahnya shalat? Kita shalat karena mungkin terpaksa, takut dosa. Ini tingkatan kualitas shalat orang awam. Tapi kualitas ini akan terus meningkat jika kita konsisten, bersungguh-sungguh melakukannya.
Begitu pula pada siswa. Saya yakin banyak siswa didik yang terpaksa meminjam buku karena takut tidak mendapat tambahan nilai dari saya. Dan saya yakin pula, ada sebagian anak yang kemudian jatuh cinta kepada buku, lalu dengan kesadaran penuh dia bersetia berpacaran dengannya.
Demikianlah, hasil dari program “jam wajib baca” memang tidak bisa langsung dilihat, tetapi mengenalkan kepada mereka tentang indahnya, nikmatnya, dan bergunanya aktifitas membaca adalah WAJIB. Dan sebenarnya, “jam wajib baca” juga sangat baik jika para orangtua di rumah mau menerapkannya.

Minggu, 09 Januari 2011

Jehenna, Narasi Jin di Tengah Kita

oleh: Ridwan Munawar*)

“kesesatan pun perlu dibaca. Untuk dihindari”
(Ahmad Tohari)


Sederet kalimat di atas kiranya cukup reresentatif untuk menggambarkan spirit dari novel mistik yang menggambarkan bagaimana gigihnya proses penyesatan yang dilakukan oleh kaum jin terhadap manusia ini. Membaca novel ini, adalah mengikuti ketegangan tanpa henti tentang bagaimana perilaku manusia selalu berada dalam godaan dan pilihan nilai baik-buruk sampai pada titik terkecilnya.

Tokoh utama di sini adalah Jehenna, seekor jin jantan yang menggoda para pengikut Muhammad Jumadil Qubra’ dan Sunan Kalijaga sampai pada keturunannya di masa dulu sampai modern sekarang. Dengan kata lain, alur waktu dalam novel ini ada tiga; masa jawa klasik, masa pergerakan nasional dan masa modern sekarang. Dalam satuan waktu kaum jin yang rata-rata berumur ratusan sampai ribuan tahun manusia, kurun waktu tiga periode di atas tentulah pendek saja adanya. “Jehenna” sendiri adalah sebuah kata yang berasal dari Syiria yang berarti “jahanam.

Melihat tema yang mistik dan mungkin terkesan horor ini, di antara kalangan pembaca barangkali ada yang bertanya dan menerka; jangan-jangan novel ini sama saja halnya dengan cerita-cerita hantu lain yang galibnya disukai orang-orang. Memang, dari segi sejarah kesusasteraan, cerita hantu atau novel-novel mistik yang mengeksplorasi mitologi alam gaib, jadag lelembut, alam jin, supranaturalitas pernah meramaikan dunia perbukuan kita, terutama pada dekade 80-90 an. Kita mungkin masih ingat novel-novel stensilan dengan tema di atas yang seringkali nama pengarangnya adalah nama samaran. Marga.T, seorang penulis kisah asmara populer pun ternyata pernah menulis tema demikian dalam beberapa edisi novelnya.



Banyak kalangan dari kritikus sastra yang mengkategorikan novel cerita hantu sebagai sastra ringan/populer. Dari segi kebahasaan, novel-novel itu memang datar-datar saja, tidak mengalami sofistikasi dan estetisasi bahasa yang njlimet. Dan segi penceritaan pun, novel horor stensilan itu tidak memiliki pesan moral yang mendalam.

Namun lain hal nya dengan novel mistik “Jehenna” ini. Dengan dialog yang subtil dan intens, konflik antara jin dan insan (manusia) pun bisa dieksplorasi sampai pada sisi nilai yang dalam; bahwa keberadaan mahluk gaib supranatural bukan sekedar keseraman-keseraman bentuk yang tanpa arti, melainkan juga memiliki peran yang penting dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Dari segi kebahasaan, novel ini cenderung puitis dan cukup peka akan perimaan.

Ini adalah suatu terobosan menarik. Sebab, bagaimanapun jika melihat realitasnya, kepercayaan mistik masih menjadi sesuatu yang kental dalam fikiran masyarakat kita, dari desa sampai kaum urban kota. Apa yang menjadi kesadaran publik, haruslah terus digali dan disikapi dengan nalar yang baik. Bisa dibilang, “Jehenna” adalah suatu usaha pencarian jalan baru dalam menarasikan mitologi mistik masyarakat kita. Sementara, pada kebanyakan pengarang dan penulis, tema-tema semacam ini banyak dihindari, karena bisa terjebak ke dalam nuansa artifisial yang kurang mengindahkan substansi nilai mistisistme Islam.

Di dunia Barat, urban legend semacam kisah hantu “Bloody Mary”, “Dracula”, atau “Bogeyman” terus direproduksi dan dinarasikan ulang lewat film dengan perbaikan yang ketat di sana-sini. Ini menjadikan dongeng yang semula picisan itu menjadi memiliki sisi lain yang patut dipertimbangkan dalam menafsirkan alam bawah sadar masyarakat urban perkotaan di Amerika. Reproduksi dan penarasian ulang menjadikan urban legend bergeser dari sekedar dongeng ringan menjadi sebentuk artefak ketaksadaran kolektif dari masyarakat yang mempercayainya.

Sudut pandang penceritaan yang memposisikan Jin sebagai narator adalah satu kekuatan penceritaan novel ini. Selama ini, hampir semua novel-novel pop mistik sebelum Jehenna selalu memposisikan mahluk gaib sebagai sesuatu yang asing, alienatif dan sesuatu yang hadir sebagai teror tanpa alasan terhadap dunia manusia. Dalam Jehenna, Jin justru ditampilkan sebagai sosok yang memiliki kesadarannya sendiri. Suara tokoh jin dan manusia yang saling berjalin kelindan dalam setiap sudut narasinya, menciptakan ketegangan yang detail dalam setiap sudut kisahnya. Konflik yang padat inilah yang membuat novel unik ini menegangkan dari awal sampai akhir.

Personifikasi jin menjadikan kehadiran alam gaib/alam lelembut itu terasa makna antropologisnya. Kehadiran jin sebagai penggoda manusia juga erat kaitannya dengan alam bawah sadar manusia dalam novel ini. Tentunya hal ini membuka peluang bagi Jehenna untuk ditafsirkan pada banyak sisi dalam kaitannya dengan mitos dan alam bawah sadar masyarakat kita yang notabene percaya akan adanaya alam gaib.

Membaca novel ini, anda tidak akan merinding takut sebagaimana halnya menonton film-film horor di televisi, tetapi menjadi lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan dalam keseharian kita.

(Sumber: Koran Merapi, 9 Januari 2011)

*)Ridwan Munawar, Mahasiswa Psikologi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 02 Januari 2011

Menghidupkan Siaran Televisi yang Pro-Buku

Jusuf AN*)
Televisi seperti hanya rokok, harus dilengkapi dengan peringatan dari Departemen Kesehatan, tulis E Shapiro lewat bukunya Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak (2006). Walaupun menonton televisi tidak langsung menimbulkan kerusakan fisiologis sebagaimana rokok, namun televisi merupakan faktor nyata yang menyebabkan obesitas (kegemukan) di kalangan anak-anak yang sekarang diduga mencapai sekitar 14 %. Dan kita tahu, obesitas mempunyai peran yang besar dalam mengundang penyakit berat yang menyebabkan pendeknya usia. Berbeda dengan rokok yang dapat menyebabkan kanker dan serangan jantung, televisi dapat menyebabkan ketagihan psikologis yang menggangu, dan fakta ini sulit dibantah siapa saja.

Satu sisi memang televisi menjadi momok yang mengancam jutaan anak di seluruh dunia. Namun di sisi lain televisi juga bisa menjadi sumber belajar yang mencerdaskan. Sebagian kalangan beranggapan televisi bisa melemahkan minat baca, menjauhkan dari buku, mengurangi gairah belajar, dan melumpuhkan emosional intelligence. Sebagian lainnya menganggap, televisi sekadar alat, jika digunakan dengan tepat ia tak akan melukai. Dengan kata lain, televisi bisa dijadikan satu sarana yang baik dalam menumbuhkan semangat belajar anak, meningkatkan potensi akademik, dan mengembangkan minat baca, tergantung dari bagaimana, apa, dan berapa lama kita menontonnya.

Tenggelamnya Mitos Televisi


Milton Chen pada 1994 menulis The Smart Parent Guide to Kids'TV, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Anak-Anak dan Televisi: Buku Panduan Orang Tua Mendampingi Anak-anak Menonton TV. Buku tersebut antara lain mengungkap penyangkalan terhadap mitos-mitos seputar televisi. Mitos-mitos ini berpangkal pada pandangan simplitis, tetapi keras kepala bahwa televisi, sebagai suatu medium, mempunyai pengaruh-pengaruh tersendiri yang terlepas dari isinya.

Salah satu mitos itu, bahwa anak yang menonton televisi tidak akan pernah menjadi pembaca yang baik. Betapa selama ini banyak orang beranggapan bahwa televisi dan buku adalah musuh bebuyutan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Program siaran yang bermutu bisa benar-benar memotivasi penonton untuk membaca dan mencintai buku.

Kita akui televisi di negeri ini penuh dengan tayangan yang cenderung sekadar menghibur ketimbang mendidik. Meski begitu, miskinnya tayangan yang bermutu tidak kemudian membuat kita terburu-buru berkesimpulan bahwa buku memiliki derajat lebih tinggi dibanding televisi. Sikap anti-televisi semacam itu disadari atau tidak telah menciptakan semacam kesombongan intelektual. Padahal, beberapa program televisi ada yang jelas-jelas pro-buku.

Kita tentu kenal dengan acara Kick Andy yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta. Acara Kick Andy patut mendapat pujian, bukan hanya disebabkan ia konsisten mengangkat tema-tema yang humanis, tetapi juga karena usahanya mengusung buku ke layar kaca. Beberapa kali Andy bahkan menghadirkan para penulis buku, seperti Andera Hirata, Muhyidin M Dahlan, Fuadi—sekadar menyebut beberapa nama—sesuatu yang sangat jarang kita jumpai. Lagi, program ini juga selalu membagikan buku gratis kepada ratusan jama’ah yang hadir di studio dan memberi kesempatan yang sama kepada pemiarsa di rumah dengan mengakses situsnya. Sangat pantas jika IKAPI tahun lalu memberikan penghargaan kepada Andy atas usaha mengembangkan minat baca masyarakat dan kemajuan bagi dunia perbukuan.

Fenomena Kick Andy membuat kita percaya, bahwa mitos televisi menjauhkan penonton dari buku telah tenggelam. Sebenarnya masih ada beberapa program tayangan televisi yang pro-buku. Cara menandainya tak hanya dengan melihat pengusungan buku atau ajakan membaca secara langsung. Setiap program acara yang mendidik, menyampaikan informasi, dan memberi pesan moral pada dasarnya adalah tayangan pro-buku. Dan seperti halnya buku, ada yang menjunjung mutu dan kualitas, ada pula yang tidak.

Menjadi Penonton Kritis

Miskinnya tayangan yang pro-buku, lebih-lebih yang bermutu, membuat kita mau tidak mau Program-program televisi yang prosemacam itu telah menenggelamkan mitos bahwa televisi menjadikan anak menjadi bodoh.Acara-acara seperti kuis permainan kata, kartun Ipin-Upin atau Dora, diyakini bisa membantu proses belajar dan merangsang minat baca. Dapat sebuah program menggunakan animasi dan grafik untuk memperjelas kata-kata kunci yang disodorkan kepada pemirsa untuk dibaca dan diucapkan keras-keras sembari menonton. Segera harus disadari bahwa TV bisa menjadi sumber kreatif untuk kegiatan belajar secara aktif, bukannya malah dijadikan penyebab matinya kegiatan belajar. Bukankah salah satu ciri televisi adalah kemampuannya menggugah pemirsa agar membaca dengan keras.

Televisi memang tak pantas kita musuhi, tetapi tayangan-tayangan yang buruk, serta kebiasaan menonton berlama-lama merupakan hal yang wajib kita kritisi. Tayangan yang buruk, atau tak sesuai dengan segmen penonton, meskipun sangat menghibur, tetapi pelan-pelan merusak dan memerosokkan mental. Sementara kebiasaan duduk berlama-lama di depan televisi tak dipungkiri dapat menumpulkan bahkan melumpuhkan perkembangan emosional intelligence, antara lain kualitas-kualitas yang berupa empati, mengendalikan amarah, kemandirian, ketekunan, dan keramahan. Maka, jangan heran jika Indonesia yang dulu masyarakatnya dikenal ramah, santun, dan senang bergotong royong, kini menjadi negeri yang gemar tawuran, bentrok, dan individualistik. Televisi begitu perkasa menggeser tata nilai dan budaya suatu masyarakat menjadi seperti sekarang ini.
Meninggalkan televisi secara total lalu menjadikan buku satu-satunya sumber ilmu dan informasi adalah sikap yang kurang arif, mesti tidak mustahil orang bisa melakukannya. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana pemiarsa cerdas dan kritis dalam memilih tayangan, dan ini sebenarnya merupakan usaha memperbaiki kualitas tayangan televisi kita. Bukankah para pembuat program acara televisi mengikuti selera pemiarsa, bukan sebaliknya.

Dan karena televisi mengincar anak-anak sebagai targetnya, maka orang tua sudah seharusnya menjadi panglima menentukan apa dan kapan waktu tepat menghidupkan televisi, sambil terus berjuang membiasakan anak membaca buku. Dengan begitu, buku dan televisi dapat berdamai. Tetapi bagi orangtua yang telah kecanduan televisi, jauh dari buku, maka hal tersebut akan sangat sulit tercapai, sebagaimana sulitnya seorang pemabuk meminta agar anaknya menghentikan kebiasaan minum khamr.

Jusuf AN, penulis lepas asal Wonosobo

Minggu, 07 November 2010

JEHENNA, Sebuah Novel Super Imajiner

                                 
JUDUL      : JEHENNA, Sahasia  Sebuah Kekuatan Impian
Pengarang  : Yusuf AN
Penerbit     : Diva Press, Yogyakarta (November 2010)

“Jehenna adalah novel yang berani mengambil risiko. Ia menawarkan tema yang pada kebanyakan penulis selalu dihindari, karena ketakutannya dianggap artifisial. Dunia halus, alam lelembut, dengan segala bentuk keanehannya memang riskan dituliskan, tapi di tangan penulis yang tepat, ia bisa menjadi kekuatan dan daya tarik yang luar biasa. Dan, Jusuf A.N. secara meyakinkan bisa melakukannya.” (Joni Ariadinata, cerpenis, redaktur majalah sastra Horison).

“Sebuah novel yang penuh kisah aneh dan tak terduga, membuat pembaca penasaran untuk terus membacanya hingga tamat.” (Ahmadun Yosi Herfanda, redaktur sastra harian Republika).

Jin mendapat izin Allah untuk menyesatkan manusia. Inilah kisah anak manusia yang jatuh bangun melawan godaan Sang Penyesat. Sangat menarik. (Ahmad Tohari, Penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk)
 
Jehenna nama jin itu. Ia telah bersumpah menyesatkan manusia, membalaskan dendam atas kematian kakeknya di tangan Umar, pengikut Muhammad. Namun, ia justru jatuh cinta pada Zaitun, jin muslim dari Mesir. Ia pun turut berlayar ke Jawa guna mengikuti keluarga gadis pujaannya yang hendak berdakwah di Jawa.

Di tanah Jawa inilah, Jehenna bertemu dengan Rijal, pemuda yang diselubungi cahaya doa orang tuanya. Jehenna teringat akan sumpahnya. Dan, Rijal adalah target utamanya!

Kamis, 03 Juni 2010

BUKU KITA DI NEGERI JIRAN

Jika melihat angka jumlah penduduknya, negeri ini adalah pasar yang besar bahkan untuk penerbitan buku. Tapi kita tahu persis hal ini: jumlah pembaca buku hanya sebagian kecil saja dari jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta orang itu --setelah "dikorting" dengan jumlah mereka yang belum atau tak bisa membaca. Banyak penyebabnya.

Tetapi soal penyebab itu sudah luas dibahas dan sejauh ini memang belum ada perubahan berarti. Yang menarik, dan karenanya Ruang Baca kali ini memilih untuk menuliskannya, adalah perluasan pasar bagi buku- buku kita yang terjadi berkat meningkatnya tren "impor" bukubuku terbitan Indonesia oleh penerbit di Malaysia, tetangga kita yang berbahasa ibu serumpun dengan bahasa Indonesia. Kata "impor" sengaja diletakkan di antara tanda petik, sebab yang terjadi bukan sepenuhnya impor --bahwa penerbit di Malaysia memasukkan buku Indonesia dalam wujud aslinya, secara fisik. Yang sebenarnya berlangsung adalah penerbit di Malaysia membeli hak penerjemahan.

Dari situ bisa dipahami bahwa akan ada pengalihbahasaan. Atau, dengan kata lain, kenyataan bahwa kedua negara itu berbahasa serumpun sama sekali tak serta-merta berarti bahasa yang berlaku di satu negara bisa langsung dipahami oleh pembaca di negara yang lain.

Apa yang terjadi itu mungkin sedikit mengurangi optimisme sudut pandang tentang perluasan pasar, atau ekspansi daya jangkau. Sebab, bagaimanapun, perpindahan bukubuku itu tak langsung; pembaca tidak membeli dan membaca versi aslinya.

Hal itu berbeda dengan, misalnya, buku berbahasa Inggris yang diterbitkan, katakanlah, di Tristan dan Cunha, pulau terpencil di antara Cape Town, Afrika Selatan, dan Buenos Aires, Argentina. Peluang buku itu untuk dibaca oleh jauh lebih banyak orang dalam versi orisinalnya, kalaupun ada, lebih besar, bukan saja di lingkungan negara berbahasa Inggris, melainkan juga pembaca di negara- negara lain yang memahami bahasa Inggris. Atau sebutlah karyakarya Derek Walcott, penyair, dramawan, dan penulis dari St. Lucia, negara pulau di Laut Karibia, yang mendunia --dan kemudian membuat Walcott masuk ke jajaran para pemenang Nobel untuk sastra.

Tetapi, apa pun, meningkatnya gairah pembelian hak penerjemahan buku-buku Indonesia oleh penerbit di Malaysia, harus diakui, merupakan perkembangan yang sulit untuk tidak membuat bungah. Akan lebih bagus lagi bila dari perkembangan demikian ini bertambah pula golongan penikmat buku yang, seperti kata William Lyon Phelps, seorang pengarang dari Amerika Serikat, membaca untuk mengingat dan mencerap isi buku yang mereka baca, bukan yang sebaliknya.

Di luar itu, paling tidak bagi penerbit, ada tambahan penopang untuk tetap melanjutkan usahanya -- beroperasi, meningkatkan produksi, dan barangkali juga berekspansi, yang ujung-ujungnya adalah manfaat bagi pembaca buku. Syukur-syukur bila daftar pengimpornya bertambah.
sumber:http://www.ruangbaca.com

Bagaimana Memilih Penerbit

Banyak orang telah memiliki naskah tulisan yang telah siap dicetak, tapi tidak tahu akan dikirimkan ke penerbit mana. Penulis juga tak memiliki cukup informasi tentang aturan main dalam dunia penerbitan. Berikut ini beberapa tips memilih penerbit:


1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi-divisi mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut.

2. Cari data tentang penerbit-penerbit sejenis, semakin banyak, semakin banyak pilihan pula bagi kita.

3. Kenali produk yang telah mereka luncurkan, sosok bukunya. Kenali kemampuan penetrasi pasar (lihat buku-buku yang telah diterbitkan, sudah berapa kali cetak ulang dan sebagainya, ini cuma satu indikasi). Kenali profesionalitas mereka, cari info dari yang telah menulis di sana lebih dulu, untuk mengetahui seberapa jauh penerbit tersebut menghargai karya penulis-penulisnya, dan menunaikan hak royalti dengan baik, kenali pula standar royalti di sana.

4. Kenali keinginan kita tentang buku yang nanti diterbitkan (konsep, ukuran, desain dan seterusnya), kombinasikan dengan profesionalitas penerbit tersebut.

5. Buatlah prioritas 1-10 penerbit yang kita inginkan. Kirimkan naskah kita pertama-tama ke penerbit yang kita anggap paling cocok menerbitkan buku-buku kita.

6. Kirimkan naskah dalam bentuk disket dan hard copy, juga dalam bentuk email. Kalau kita menginginkan naskah dikembalikan apabila tidak dimuat, kirimkan juga sebuah amplop kosong yang bertuliskan nama kita dan alamat dan sudah dibubuhi perangko, hingga tidak merepotkan penerbit.

7. Sertakan juga biodata dan kalau ada keterangan tentang karya-karya yang telah dimuat di media mana saja. Sertakan sinopsis cerita, sertakan pula karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Ini akan memudahkan ilustrator nantinya.

8. Rajinlah mengontak penerbit yang bersangkutan, apakah naskah kita sudah mereka terima, tanyakan pula kira-kira berapa lama kita harus menunggu. Kalau mereka tidak punya jawaban mungkin kita bisa memberikan alternatif (3 bulan? 6 bulan? 12 bulan? Tentu disesuaikan dengan posisi bargaining power kita. Kalau baru pertama kali, mungkin jangan langsung menggetok penerbit dengan hanya memberi waktu 3 bulan). Untuk diketahui, biasanya penerbit perlu waktu 2-3 bulan untuk menerbitkan sebuah buku.

9. Meskipun itu buku pertama kita, tidak berarti penulis tak berhak untuk memberikan usul-usul atau meminta beberapa terms, selama wajar. Misal minta gambaran sampul buku, minta bisa mengintip duluan soal sinopsis yang mereka buat, tanya apakah boleh memberi alternatif dari kita sendiri?
sumber:http://www.ruangbaca.com

Minggu, 09 Mei 2010

Lomba Menulis Resensi Buku Lewat Facebook 2010

Deadline: 18 Juli 2010


Dalam rangka memasyarakatkan minta baca dan menulis, serta ikut serta menjadikan facebook sebagai ajang kreasi positif bagi generasi muda muslim, kami dari Penerbit
Oase Qalbu, didukung penuh oleh penulis buku Badiatul Muchlisin Asti, Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG), Yayasan Mutiara Ilma Nafia, dan Lembaga Pelatihan Penulisan dan Penerbitan Buku (LP3B), berinisiatif mengadakan Lomba Menulis Resensi Buku Lewat Facebook 2010.
Lomba ini terbuka untuk para sahabat muda muslim pengguna facebook di mana pun berada dengan syarat usia maksimal 25 tahun.

CARA MENGIKUTI:
1. Buatlah sebuah resensi dari buku berjudul “Saat Kuncup Cinta Mekar di Hati: Panduan Islami untuk Remaja Agar Cintanya Tak Berbuah Petaka” karya Badiatul Muchlisin Asti yang diterbikan GAUL (imprint dari penerbit Oase Qalbu yang mengkhususkan diri pada penerbitan buku-buku remaja) pada April 2010.

2. Resensi ditulis dalam 400 - 500 kata (atau 1 – 1,5 halaman A4) Times New Roman ukuran 12, spasi satu.
3. Tulis hasil resensi di catatan (note) facebook kamu sendiri, tag minimal 20 teman, dan cantumkan “RESENSI BUKU SAAT KUNCUP CINTA MEKAR DI HATI” di subjek catatan (note) tersebut. Jangan lupa menyertakan gambar cover buku.
4. Untuk memudahkan penilaian, jika kamu belum jadi teman di facebook OASE QALBU, maka silakan add/ tambahkan sebagai teman OASE QALBU terlebih dahulu.
5. Selain menulis resensi di catatan (note) facebook kamu, kirimkan hasil resensi tersebut ke email: penerbitoaseqalbu@gmail.com, dengan menuliskan RESENSI BUKU SAAT KUNCUP CINTA MEKAR DI HATI sebagai subjek email. Jangan lupa untuk menyertakan data diri lengkap (nama, alamat rumah, alamat facebook, nomor HP).

HADIAHNYA:

1. Paket buku senilai Rp 3.000.000,- untuk 6 (enam) pemenang.
-3 (tiga) pemenang utama masing-masing mendapatkan paket buku senilai Rp 750.000,-
-3 (tiga) pemenang harapan masing-masing mendapatkan paket buku senilai Rp 250.000,-
2. Voucher Pelatihan Cara Mudah Menulis Buku (CMMB) dari Lembaga Pelatihan Penulisan dan Penerbitan Buku (LP3B) senilai Rp 1.200.000,- untuk 3 orang pemenang utama dan 3 pemenang harapan (masing-masing voucher senilai Rp 200.000,-).
3. Piagam penghargaan untuk seluruh pemenang.


KRITERIA PENILAIAN:
1. Kelihaian menguraikan isi buku secara padat, menarik, komunikatif, dan informatif.
2. Kedalaman analisis isi buku, seperti manfaat, kekurangan, dan kelebihan buku.
3. Kualitas dan kuantitas komentar teman-temanmu di masing-masing catatan (note) facebook.

Resensi ditunggu sampai dengan 18 Juli 2010.
Pengumuman pemenang tanggal 31 Juli 2010 lewat FB dan blog Oase Qalbu.

Hasil resensi pemenang juga akan ditampilkan di FB dan blog Oase Qalbu. Pemenang akan dihubungi lewat telepon.

CATATAN PENTING:
-Judul buku hadiah tidak bisa dipilih dan sesuai stock buku yang ada.
-Hadiah akan dikirimkan ke alamat pemenang.
-Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.
-Buku “Saat Kuncup Cinta Mekar di Hati” dapat dipesan langsung kepada kami. Informasi cara pemesanan bisa diperoleh di FB Oase Qalbu atau blog: http://penerbitoaseqalbu.blogspot.com.

Minggu, 04 April 2010

Buku Amal dan Amal Buku

Jusuf AN *)

Sejak tahun 1954 program Books for Asia Foundasion telah mendistribusikan lebih dari 41 juta buku jurnal ilmiah, materi pendidikan, bahkan buku-buku sastra ke lebih dari 50.000 lembaga akademis maupun non-akademis di negara-negara Asia. Pada tahun 2005 saja, lebih dari 750.000 sumbangan buku senilai US$ 28 juta telah dibagikan ke sekolah-sekolah, universitas, perpustakaan umum, pusat penelitian, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya di 15 negara, termasuk Indonesia.

Meskipun jumlah tersebut terbilang banyak, tetapi buku-buku yang disumbangan itu lebih dari 95% merupakan sumbangan yang diberikan oleh penerbit-penerbit di Amerika Serikat. Tentu saja teks di dalamnya tidak menggunakan bahasa Indoensia. Lantas, apakah buku-buku tersebut bisa digunakan secara maksimal oleh masyarakat Indonesia yang memiliki kualitas pendidikan, seturut International Educational Achievment (IEA), masih rendah, dan tentunya juga memiliki penguasaan bahasa Inggris yang lemah?
Apapun jawabannya, sumbangan buku yang dilakukan Asia Foundation patut diteladani dan mendapatkan penghargaan yang tinggi. Bagaimana pun beramal dalam bentuk buku punya andil yang besar dalam meningkatkan kecerdasan bangsa—tugas yang sebenarnya menjadi agenda besar negara namun kurang mendapat perhatian bahkan nyaris dilupakan.
Kita tahu, hingga saat ini masih banyak sekolah-sekolah, khususnya di kawasan pedesaan yang belum memiliki bahan bacaan penujang pelajaran yang memadai. Belum lagi krisis multidimensi yang berdampak pada kemiskinan dan melambungnya harga-harga, termasuk buku, hingga tak terjangkau kalangan bawah. Hal ini semakin menjauhkan harapan pencerdasan bangsa, apalagi secara merata.

Keluar dari Krisis dengan Buku
Imbauan untuk memerangi kemiskian yang ditujukan kepada pengusaha swasta sudah sering dilontarkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) termasuk melalui inisiatif corporate social responsibility (CSR). Namun, pendekatan pemberantasan kemiskinan seperti ini sering menemui jalan buntu. Sebab amal sering kali dilihat sebagai beban. Tekanan. Pengusaha hanya beramal saja tanpa ikut ambil bagian dalam usaha mengembangkannya. Maka, sering kali pendekatan ini mandeg, karena pada umumnya amal tidak memberdayakan kapasitas ekonomi sang miskin.
Ungkapan di atas akan lain jika amal dalam bentuk buku. Amal atau sumbangan buku lebih mudah pemberdayaannya, jelas sasarannya, dan tidak lebih rumit pengorganisirannya.
Meski demikian beramal dalam bentuk buku masih jarang dilakukan, bahkan dianggap hal yang aneh. Kebanyakan orang akan lebih lebar senyumnya jika mendapat bantuan selain buku, misalnya, pupuk, sembako, dan lainnya. Saya tidak sedang mengatakan pupuk dan sembako tidak penting, tetapi sumbangan dalam bentuk buku tentu tak kalah penting.
Saya bukan sedang berkhotbah. Tetapi lihatlah, di sekeliling kita, masyarakat muslim misalnya, lebih senang beramal dalam bahan bangunan atau cash money untuk membangun masjid ketimbang membelikan buku-buku untuk membuat perpustakaan kecil di masjid. Oleh karena menyumbang buku dianggap tidak menjanjikan menggaet massa, maka calon-calon kepala desa, bupati, atau gubernur lebih memilih berkampanye dengan menyumbang hewan kurban atau mengiming-imingi jalan aspal ketimbang membagi-bagikan buku gratis atau membangunkan perpustakaan.
Para dermawan saya kira tidak bisa disalahkan. Mereka menyumbang berdasarkan kebutuhan masyarakat, lebih jelas lagi kebutuhan yang mendesak. Masyarakan menginginkan bantuan yang instan, nyata, bisa langsung digunakan saat itu juga, tidak seperti buku yang (mungkin dalam kaca mata sebagian besar orang) hanya menghabiskan waktu. Fenomena seperti itu merupakan ciri masih rendahnya minat baca di negeri ini. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut terjadi. Kita tidak mungkin akan bangkit dari krisis dengan serta merta. Butuh waktu. Amal buku paling tidak bisa membantu, mengokohkan kaki negeri ini untuk berdiri kembali.
Sementara itu, baru-baru ini cukup marak kita melihat aksi proyek buku amal. Buku amal itu sendiri mengandung pengertian, buku yang sebagian atau keseluruhan dari hasil penjualannya disumbangkan. Sasaran yang mendapatkan sumbangan dari penjualan buku amal bisa berbeda-beda. Mulai sumbangan untuk kaum miskin, pendidikan nasional, atau korban bencana alam.
Buku kumpulan puisi 5,9 Scala Richer misalnya, merupakan salah satu contoh buku amal yang hasil penjualannya disalurkan untuk membantu korban bencana gempa di Jogjakarta. Ada juga buku amal Opera Zaman, kumpulan cerpen yang digagas Komunitas Merapi, yang hasil penjualannya disumbangkan untuk biaya pendidikan, dsb.
Baik amal buku maupun buku amal mempunyai kelebihannya sediri-sendiri. Beramal buku secara tidak langsung beramal ilmu. Beramal ilmu berarti membantu meningkatkan kecerdasan bangsa sebagai pilar terwujudnya masyarakat sejahtera. Sementara penerbitan buku-buku amal, selain dari sisi isi bukunya—bagi pembacanya—menyumbangkan pencerahan atau khazanah pengetahuan, juga memiliki manfaat lainnya.
Namun demikian, secara umum buku amal punya kelemahan yang cukup merisaukan. Ketika sebuah buku amal kurang dimitati di kalangan konsumen, maka dari segi kuantitas beramal-nya juga menjadi kurang maksimal. Karenanya, sudah selayaknya kita untuk melirik buku-buku amal yang telah beredar. Meski pun buku itu barangkali kurang begitu menarik dan kurang berkualitas. Pihak penerbit sendiri menjadi penting untuk membubuhkan label—misalnya di bagian sampul—buku amal yang berfungsi untuk membedakan dengan buku-buku di luarnya.
Sekarang bukan waktu yang tepat lagi menunggu negara bergerak memberikan buku gratis. Tapi andai saja, semoga saya tidak sedang bermimpi, orang-orang yang pemegang kendali negeri ini bisa mencontoh Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim yang mempunyai kebiasaan membelikan buku untuk diberikan sebagai oleh-oleh kepada rekan-rekannya di kabinet. Saya menyarankan kepada mereka untuk membeli buku-buku bertema "anti korupsi."


Menunggu Jin Menulis Buku





Jusuf AN

Di tengah perkembangan teknologi yang menggila ternyata tidak membuat banyak orang untuk melupakan persoalan-persoalan supranatural, alam gaib, khususnya yang berhubungan dengan alam jin, yang notabene sulit didekati dengan paradigma rasional dan atau empirik. Kenyataannya, buku seputar alam jin banyak lahir dan mendapat sambutan meriah dari pembaca.



Kita ingat, pada pertengahan tahun 1995 dunia perbukuan nasional sempat dihebohkan dengan terbitnya buku Dialog Alam Jin (Pustaka Hidayah, 1995). Buku tersebut menyedot perhatian besar dari kalangan pembaca sehingga dalam waktu kurang lebih satu setengah tahun sudah mencapai cetakan kedua belas dan hingga sekarang masih dicari banyak orang. Buku karya Muhammad Isa Dawud itu menarik karena, pertama, pengarang mencoba menggali informasi seputar alam jin melalui wawancara langsung dengan jin muslim sahabatnya. Kedua, mencoba mengungkap berbagai misteri besar dunia, seperti Segitiga Bermuda, Segitiga Formosa, dan rahasia kehebatan pesihir besar David Copperfield.
Perihal apakah Muhammad Isa Dawud benar-benar berdialog dengan jin muslim sahabatnya atau hanya sekadar menjadikan jin tersebut sebagai tokoh fiktif agar ia lebih leluasa menuangkan pemikirannya, allahua’lam. Tapi yang jelas Isa Dawud tidak sekadar asal menulis wawancara khususnya dengan jin yang memiliki nama Musthafa itu. Setiap informasi yang ia dapatkan dari Musthafa berkenaan dengan seluk-beluk dunia jin tidak begitu saja diserahkan kepada pembaca, tetapi dikuatkan kebenarnnya atau dimentahkan dengan dalil-dalil al-Qur’an maupun hadis Nabi Saw. Apa yang dilakukan Isa Dawud sangat tepat mengingat pada dasarnya jin memiliki sifat dan karakteristik yang jauh berbeda dengan manusia. Jin terkenal senang berbohong, lebih-lebih terhadap manusia, tentu ia memiliki peluang lebih besar untuk berlaku demikian.
Selain Muhammad Isa dawud ada beberapa pengarang lain yang menulis buku alam jin dengan bekal dalil-dalil dan pengalaman berinteraksi langsung dengan jin, salah satunya adalah Muhammad Jaad dengan bukunya Kayfiyyah Tarwidh al-Jinn li al-Insan yang kemudian oleh Pustaka Pelajar diterbitkan dengan judul Menaklukan Jin (2008).
Selain dua buku tersebut masih terdapat banyak buku lain dengan tema serupa. Saking menariknya alam jin, dunia sastra pun tak luput menggarapnya. Lewat novel Nar’ Kobar: The Motivator (Akoer, 2007) Andhika Pramajaya turut andil bagian menguak misteri alam jin. Tidak seperti kisah-kisah jin yang menyeramkan, Andhika menggambarkan tokoh utamanya, jin bernama Nar’ Kobar, dengan kocak dan menggelitik. Jin digambarkan sebagai sosok yang ‘manusiawi’: senang menonton TV, belanja di mall, jatuh cinta, menulis diary dan puisi. Tentu saja Andhika tidak hanya bermodalkan imajinasi dalam menulis novel tersebut. Bagi pembaca yang sedikit banyak mengetahui alam jin akan mudah merasakan, betapa Andhika telah melakukan riset tentang alam jin untuk penulisan novelnya. Perihal apakah riset yang dilakukan Andhika berupa studi pustaka atau lapangan (mengunjungi langsung alam jin dan berinteraksi dengan jin) saya sendiri tak dapat memastikan.

Tidak Tuntas
Bagi orang awam yang tidak tahu menahu soal dunia jin, tentu memiliki keingintahuan yang besar tentang alam ini. Namun sayangnya dalam pengamatan saya sampai sekarang belum ada buku tentang alam jin yang benar-benar memuaskan.
Bahwa jin tecipta dari api tetapi tak lagi berbentuk api; jin ada yang muslim dan ada pula yang kafir; jin makan, minum, berpakaian, berumah tinggal, berhubungan seksual dan beranak-pinak, kiranya sudah menjadi pemahaman kita bersama. Bahwa jin berperadaban; jin dapat menjelma menjadi sosok manusia; jin dapat merasuk ke jasad manusia, juga sudah banyak ditulis orang. Tetapi bagaimana bentuk-bentuk rumah jin dan bagaimana pakaian jin itu dibuat, tidak diterangkan oleh Isa Dawud, Muhammad Jaad, Andhika Pramajaya, atau penulis lainnya. Ada memang informasi yang mengatakan bahwa pakaian jin terbuat dari daun papirus. Tapi cara pengolahannya bagaimana, lalu apakah di alam jin juga ada penjahit dan pabrik pakaian?
Orang muslim percaya, bahwa jin merupakan makhluk yang hidup di bumi bersama-sama dengan manusia. Sebagai makhluk umurnya tentu saja dibatasi, meski ia memiliki umur yang mencapai ribuan tahun. Pertanyannya, bagaimana pengurusan jenazah jin? Dikubur atau dibakar atau diapakan? Sampai sekarang belum ada yang mampu memecah teka-teki itu.
Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yang belum tersingkap seputar alam jin. Saya hanya menderetkan beberapa pertanyaan tersebut untuk menegaskan bahwa buku-buku tentang alam jin masih belum memuaskan.

Batas Pengetahuan
Menjadi satu kaharusan bagi setiap muslim untuk percaya akan keberadaan alam jin. Sebab al-Qur’an sendiri mengatakan dengan tegas akan keberadaan makhluk ini, bahkan jin menjadi salah satu surah di antara 114 surah yang ada di dalam al-Qur’an. Namun demikian ternyata wahyu dan sunnah membatasi pengetahuan manusia perihal seluk-beluk alam jin. Dalil-dalil seputar alam jin hanya menjelaskan secara global, dan karenanya menjadi tugas kita untuk melengkapinya.
Buku-buku seputar alam jin barangkali akan berkutat pada pembahasan yang itu-itu saja sampai ada pengarang yang berani membongkar lebar-lebar tabir kehidupan alam tersebut. Andai saja nanti ada salah seekor jin (karena memang jin memiliki ekor) yang menulis buku (karena memang jin membaca dan menulis) tentang alamnya lalu menyerahkannya kepada penerbitan yang dikelola manusia pastilah akan sangat menghebohkan. Apakah ini mungkin terjadi? Mungkin saja, meskipun pasti akan menimbulkan kontroversi.

*) Jusuf AN, Penggiat Rumah Poetika Yogyakarta



Berbalas Buku: Mengakhiri Bonfire of Liberties


Jusuf AN
Guru, Pecinta Buku asal Wonosobo

SEJARAH bonfire of liberties atau sering juga disebut penghangusan kebebasan adalah sejarah pahit dunia perbukuan. Masih kuat dalam ingatan kita tentang apa yang dilakukan dinasti Qin di Cina daratan dalam mencegah masuknya pengaruh sebuah ajaran hingga mengakibatkan buku-buku Konfusian dibakar tahun 213 SM. Perpustakaan Besar Iskandariah (The Great Library of Alexandria) juga




terbakar pada 47 SM ketika Julius Caesar membakar kapalnya yang sandar di pelabuhan agar tak dirampas Mesir. Api dari kapal yang dibakar itu merembet memusnahkan berbagai bangunan di pelabuhan, termasuk perpustakaan yang disebutkan berisi 400.000 gulung manuskrip di atas kertas papirus itu. Bonfire of liberties masih berlanjut, Kaisar Romawi Theodosius (378-396 M) memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan Pustaka Besar Iskandariah, yang dibangun kembali oleh Antonius pada 41 SM. Perulangan sejarah bonfire of liberties juga terjadi di berbagai kota di Amerika dan Eropa pada abad ke-20, yang paling menonjol adalah pembakaran buku-buku subversif dan bertentangan dengan ideologi Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler. Buku-buku dimusnahkan dalam api unggun yang panasnya mencapai 451 derajat Fahrenheit, bulan Mei 1943.

Setelah dua dasawarsa lebih bonfire of liberties terjadi di Jerman, musibah itu menular ke Indonesia. Hampir semua buku Pramudya Ananta Toer dan para penulis ‘kiri’ lainnya dilarang terbit dan ditarik dari peredarannya pada saat Soeharto berkuasa. Setelah Soeharto lengser pun sejarah bonfire of liberties masih berlanjut, pembakaran buku karya Frans Magnis Soeseno berjudul Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (2001) yang dilakukan sekelompok orang hanyalah salah satu contoh dari sekian tregedi bonfire of liberties di negeri yang mengaku berdemokrasi ini.

Bonfire of liberties sungguhlah merisaukan para penulis sekaligus dunia penerbitan. Meskipun sebagian penulis, termasuk Pram, yang bukunya paling banyak dilarang terbit dan dilarang edar, ada yang tidak bergeming dan mengaku diuntungkan dengan pelarangan itu, karena hal itu akan menjadi promosi gratis. Tetapi pihak penerbit dipastikan mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat bukunya ditarik dari pasar, apalagi dibakar.

Tapi beginilah potret sebuah negeri yang masih ragu-ragu dengan ungkapan, bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai buku, bukan membredelnya. Bukankah buku yang paling kontroversi sekalipun tidak akan membuat sebuah negara hancur, melainkan justru akan semakin mencerdaskan bangsa itu? Bukankah lebih arif sekaligus menarik dan menggairahkan semangat intelektual jika sebuah buku dibalas dengan buku, bukan api, tinju, atau surat larangan dari pihak berkuasa? Tentu.

Perang Wacana

Buku terjemahan Da Vinci Code karya Dan Brown yang telah terjual di atas 100.000 copy hanya di Indonesia saja merupakan salah satu buku yang telah melahirkan fenomena "buku berbalas buku". Dan Brown, yang mengklaim bahwa novelnya tersebut bukan sekadar fiksi melainkan didasari atas penetian ilmiah mencuatkan beberapa kontroversi. Apakah Yesus benar-benar pernah menikah dengan Maria Magdalena? Apa benar, Maria pergi ke Perancis lalu beranak cucu di sana, dan keturunannya sekarang masih ada? Benarkah pihak gereja menutup-nutupi skandal tersebut selama ribuan tahun lamanya? Maka lahirlah beberapa buku sanggahan Da Vinci Code antara lain Cracking Da Vinci Code: Mematahkan Teori-teori Spekulatif dalan The Da Vinci Code (2005) karya James L. Garlow & Peter Jones, Da Vinci Code Decoded: Menguak Kebenaran di Balik The Da Vinci Code (2005) karya Martin Lunn, Menjawab The Da Vinci Code, dan Pengakuan Maria Magdalena: Saat-saat Intim Bersama Sang Guru (2005) karya Lie Chung Yen.
Beberapa bulan setelah Andre Comte-Spionville menulis Spititualitas Tanpa Tuhan (2008) Abu Sangkan meluncurkan bukunya Spititualitas Salah Kaprah (2008). Ketika penerbit Kompas dulu masih rutin menerbitkan kumpulan cerpen terbaik yang dimuat di Kompas edisi Minggu, Rudi Gunawan kemudian menerbitkan buku Zarima: Kumpulan Cerpen (bukan) Pilihan Kompas (2001). Setelah beberapa bulan Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy terbit, Taufiqurrahman al Azizi menerbitkan trilogi Syahadat Cinta (2007), Musafir Cinta (2007), Makrifat Cinta (2008), . Dalam sebuah work shop penulisan buku di Wonosobo belum lama ini Taufik menuturkan bahwa novel trilogi tersebut merupakan usaha untuk meng-counter kandungan Ayat-Ayat Cinta yang hitam putih dalam memandang agama.

Berbalas buku, adalah berbalas wacana, kalaupun terjadi perseteruan dan bahkan perang antara penulis yang bukunya dibalas dan yang membalas, itu hanya berlangsung di atas kertas sehingga tidak merugikan publik yang memiliki hak untuk membaca, tidak merugikan penulis yang memiliki hak mengeluarkan pendapat, tidak merugikan penerbit yang kini sedang dicekik harga kertas.

Buku berbalas buku kadang-kadang memang tidak saling melengkapi, tetapi cenderung saling berbantah, hal ini begitu kentara dalam buku pemikiran dan sejarah. Buku Bersaksi di Tengah Badai (2003) debutan Wiranto, Panglima TNI saat terjadinya peristiwa Mei 1998 misalnya, setidaknya telah memunculkan dua buku balasan, yakni Konflik dan Integrasi TNI-AD karangan Mayor Jenderal Kivlan Zen (2004) dan Politik Huru-hara Mei 1998 (2003) karya Fadli Zon atau yang lebih dikenal dengan Prabowo Subianto. Saling bantah antara buku-buku tersebut, bukan hanya berkutat pada dalang peristiwa 14 Mei 1998, tetapi juga pada soal pembentukan Sidang Istimewa yang kemudian dikenal sebagai Pamswakarsa.

Keterbukaan

Belakangan ini kita sedang merindukan sebuah buku balasan atas terbitnya buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Winer. Sayang rasanya kalau buku setebal 832 halaman itu teracam ditarik peredarannya hanya karena dianggap telah merusak citra Adam Malik di mata publik. Menarik buku dari pasar tidak segampang menarik makanan kada luarsa. Tidak cukup hanya dengan alasan untuk ketertiban dan kententraman masyarakat. Masyarakat kita memang mudah terprovokasi, tetapi bagaimana pun sebuah keterbukaan tetaplah lebih menarik dari pada keterutupan. Penarikan buku Memongkar Kegagalan CIA boleh saja dilakukan setelah pengadilan membuktikan bahwa buku tersebut nyata tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Agar bonfire of liberties tidak terulang lagi, mungkin kita patut untuk merenungkan kata-kata Alfred Whitney (1906-1963), seorang pendidik yang juga sejarawan asal Amerika Serikat. Menurutnya, sebuah buku tidak akan pernah bisa dibakar. Ide-ide tidak akan mungkin dipenjarakan. Satu-satunya senjata yang ampuh melawan ide-ide buruk adalah dengan ide-ide yang baik. Dan sumber ide-ide yang baik adalah kebijaksanaan.

Dari Haji Terbitlah buku

Jusuf AN*)

Mekah dan Madinah adalah dua kota yang paling sering dibicarakan sekaligus dirindukan oleh orang Islam. Bukan hanya karena pesona yang dimiliki dua kota tersebut, melainkan lebih pada eksistensi


historisnya yang menyimpan sejarah religiusitas agama hanif. Gua Hira’, Ka’bah, bukit Shafa dan Marwa, Masjid Nabawi, Hajar Aswad, dan Arafah merupakan di antara sederet tempat yang menyimpan jejak para Nabi sehingga sangat wajar kalau membuat hati seorang muslim rindu untuk menziarahinya dengan tujuan untuk menyempurnakan keislamannya, yakni dengan menjalankan ibadah haji.

Sekitar 2,5 juta ummat muslim dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya berkumpul menjadi satu di Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam yang kelima itu. Orang-orang rela antri, menabung (uang dan harapan), dan belajar dengan keras tentang tata cara ibadah haji. Pelatihan-pelatian digelar dan buku tuntunan pelaksanaan ibadah haji menjadi benda yang sangat dibutuhkan oleh calon jamaah haji.
Selain kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) dan Departemen Agama yang rutin menerbitkan buku praktis seputar ibadah haji, beberapa penerbit juga ada yang tertarik menerbitkannya. Namun nasib buku-buku praktis ibadah haji tidak seperti buku praktis ‘kehamilan dan melahirkan’ yang laris manis. Buku praktis ibadah haji lumayan seret di pasar, barangkali karena para calon jamaah sebagai target utama diterbitkannya buku macam itu sudah mendapat buku gratis dari pemerintah, KBIH, maupun dari pihak lainnya.

Buku-buku tuntunan ibadah haji tentunya sangat berguna bagi calon jama’ah haji. Betapa seseorang mesti memiliki ilmu yang cukup sebelum dilepas di tempat yang sebelumnya hanya dilihat di televisi dan sajadah. Sekian syarat, rukun, dan doa-doa haji, serta norma dan etika di Tahan Suci mesti dipahami benar sebelum berangkat. Karena itu, semakin banyak buku yang dibaca semakin bagus untuk menambah referensi.
Namun demikian, tidak semua buku tuntunan ibadah haji harus ditelan mentah-mentah. Karena sekitar setahun lalu, Kabupaten Lebak, Banten dihebohkan dengan beredarnya buku tuntunan ibadah haji setebal 86 halaman yang isinya menyesatkan dan berpotensi memecah belah ummat. Buku berjudul Risalah Upacara Ibadah Haji yang dikarang Drs. H. Amos (diduga nama paslu) itu dibagikan secara gratis dengan diletakkan di tempat-tempat umum. Buku itu sangat meresahkan masyarakat karena di dalamnya, antara lain diterangkan bahwa ibadah haji sebagai ibadah menyembah berhala.

Pengalaman Spiritual

Bukanlah Ka’bah, Hijir Ismail, makam Nabi Muhammad dan jejak kaki Ibrahim yang dijadikan sesembahan, melainkan hanya Dzat Yang Mahakuasa. Tawaf, Sa’i, lempar jumrah, wukuf di padang Arafah, Tahalul, dan serentetan ritual penuh makna lainnya adalah upaya menyempurnakan agama dan mendekatkan diri pada Sang Khaliq. Ibadah haji bukan sekadar ritual tahunan atau wisata spiritual yang menelan banyak ongkos.
Tidak sedikit jamaah haji yang pulang ke Tanah Air membawa banyak pengalaman spiritual selama kurang lebih 40 hari berada di Tanah Suci, tetapi tidak sedikti pula yang pulang hanya membawa air Zamzam, kurma, daging unta, atau bunga Mariam. Sebagian orang ada yang menceritakan pengalaman hajinya lewat lisan, sebagian lagi menelorkannya lewat tulisan untuk kemudian diterbitkan menjadi buku.

Ya, orang yang sudah pernah pergi ke Tahan Suci untuk berhaji memang mempunyai hak untuk bercerita atau menulis tentang pengalamannya, tidak peduli apakah ia seorang pejabat, sastrawan, pegawai bank, atau pedagang. Setiap orang memiliki pengalaman spiritual yang berbeda-beda sehingga buku-buku yang berisi catatan selama menjalankan ibadah haji selalu menarik untuk dibaca.

Sastrawan Danarto pada tahun 1984 menulis buku Orang Jawa Naik Haji, 100 Keajaiban di Tanah Suci yang kocak sekaligus menggetarkan. Soekirno, seorang aktivis LSM, membeberkan apa yang dialaminya selama menjalankan ibadah haji dalam buku Meniti Cahaya (2003). Juga ada Slamet Ristanto, seorang pewagai bank yang juga penulis buku Humor-Humor CALO(n) Haji (2004) dan Penggeli dari Tanah Suci (2005), menulis pengamalan hajinya dalam buku Di Atas Pusaran Ka’bah (2004). Selain itu ada buku Pengalaman Seorang Mualaf: Haji Kelana Mencari Ilahi (1996) oleh Ahmad Thomson, Haji: Sebuah Pengalaman Perjalanan Air Mata, Pengalaman Beribadah Haji 30 Tokoh (1993) oleh Musthafa W Hasyim.

Membaca buku-buku memoar perjalanan ibadah haji memiliki keasyikan tersendiri, khususnya bagi pembaca yang belum pernah naik haji. Alam kota Mekah dan Madinah yang eksotis dimana jutaan manusia (juga jin dan malaikat) berkumpul, serta cerita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar nalar manusia merupakan jenis bacaan yang tidak membosankan. Membaca buku-buku tersebut di atas, beberapa kali saya tertawa-tawa, tersenyum, tercengang, sekaligus merasa ditantang, “Kalau tak percaya, kau dapat membuktikannya?”

Bagi kita yang pada musim haji tahun ini tetap bertahan di Tahan Air, barangkali tepat untuk kembali mengingat kisah hidup Ibn Mubarrak. Ibn Mubarrak adalah orang yang gagal berangkat haji karena telah mengorbankan hartanya untuk membantu anak yatim dan janda miskin keturunan Bani Allawiyah. Orang sekampungnya yang tahun itu pergi berhaji, banyak yang melihat Ibn Mubarrak ada di Tanah Suci, padahal saat itu dia ada di kampungya. Dalam mimpinya kemudian, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Tuhan telah mengutus malaikat menyerupai wajah Ibn Mubarrak untuk menunaikan hajinya, karena dia telah ikhlas memberikan hartanya untuk orang miskin.

*) Jusuf AN, Pecinta Buku
Guru MTs Negeri Wonosobo