Tampilkan postingan dengan label buah karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah karyaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2011

Anakku: BURUNG-BURUNG CAHAYA


    Judul      : Burung-Burung Cahaya
    Penerbit : Sabil, Yogyakarta
    Tebal     : 446 hlm
    Cetakan : 1, Februari 2011



alhamdulillah
anak saya yang kedua kembali lahir, sudah digenapkan dengan nama: "Burung-Burung Cahaya". 
mohon doa restunya, semoga petualangannya di dunia perbukuan mendapatkan berkah.
Saya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya untuk Penerbit Diva Press yang bersedia membantu kelahirannya. Kepada Simbah K.H. Musthafa Bisri, Kang Acep Zam-Zam Noor, Bang Kurnia Effendi, Mas Chand Parwez Servia, dan Mbakyu Yetti A.KA yang sudi memberikan komentar (doa) dan masukan. Juga kepada guru, dan kawan-kawanku yang telah mengajarkan kebijaksanaan kepadaku (K.H. Nuruddin (almarhum), Joni Ariadinata, Mahwi Tawar, Indrian Koto, Rakai Lukman, Amin Steven, Sunlie Thomas Alexander, Ridwan Munawar,Fahmi Amrullah, Mukhlis Amrin, Aguk Irawan MN, kawan-kawan Rumah Poetika dan Sanggar Jepit Yogyakarta, serta guru dan kawan-kawanku yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. terimakasih atas kebaikan kalian semua....

*****
Berikut ini merupakan spirit dan doa untuk Burung-burung Cahaya:


Al-Quran oleh setiap muslim diakui sebagai sesuatu yang agung. Sebutan-sebutan mulia selalu dikenakan pada kitab suci umat Islam itu. Pertanyaannya, sudahkah kaum muslimin memperlakukan kitab sucinya itu sebagaimna mestinya? Novel 'Burung-burung Cahaya' yang merupakan metafor untuk menggambarkan santri-santri Pondok pesantren al-Quran ini, mencoba memotivasi pembacanya ~khususnya yang beragama Islam~ untuk memperlakukan al-Quran sebagaimana seharusnya. Di samping itu, pembaca diajak berpikir tentang lika-likunya perjalanan menuju derajat kemuliaan di sisi Allah. Novel yang menarik dan menggelitik. (KH. A. Mustofa Bisri, Budayawan, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang)

Novel ini menguraikan secara detail berbagai anasir cerita mulai dari tema, peristiwa hingga konfilk dengan sangat hidup dan memikat. Sebuah novel yang mencoba mengangkat dunia pesantren dari sudut pandang lain, dengan cara yang lain pula. (Acep Zamzam Noor, penyair peraih penghargaan Sastra Asia Tenggara dan Khatulistiwa Award)

Pesantren tidak kalis pada persoalan manusia umumnya: cinta, harapan, dan ambisi untuk mendapatkannya. Ada niat mulia untuk menghapus kelam masa lalu, dan persahabatan yang terjalin liat seiring waktu. Jusuf memandang lengkap tiap warna yang merona di latar relijius itu. (Kurnia Effendi, Pecinta Sastra)

Cerita berjalan dalam dua koridor tentang menghafal al-Qur’an dan cinta yang coba disatukan dalam gejolak pencarian dan pendewasaan Rijal, tokoh utama novel ini. Cukup memberi romantika dan menarik untuk dibaca. (Chand Parwez Servia, Produser Film Starvision Plus)

Jusuf AN dalam novel ini menghadirkan kehidupan dunia pesantren dengan gaya penulisan yang sederhana, enteng, tetapi memikat. (Yetti A. KA. Cerpenis)


Selamat berpetualang anakku...

Minggu, 09 Januari 2011

Jehenna, Narasi Jin di Tengah Kita

oleh: Ridwan Munawar*)

“kesesatan pun perlu dibaca. Untuk dihindari”
(Ahmad Tohari)


Sederet kalimat di atas kiranya cukup reresentatif untuk menggambarkan spirit dari novel mistik yang menggambarkan bagaimana gigihnya proses penyesatan yang dilakukan oleh kaum jin terhadap manusia ini. Membaca novel ini, adalah mengikuti ketegangan tanpa henti tentang bagaimana perilaku manusia selalu berada dalam godaan dan pilihan nilai baik-buruk sampai pada titik terkecilnya.

Tokoh utama di sini adalah Jehenna, seekor jin jantan yang menggoda para pengikut Muhammad Jumadil Qubra’ dan Sunan Kalijaga sampai pada keturunannya di masa dulu sampai modern sekarang. Dengan kata lain, alur waktu dalam novel ini ada tiga; masa jawa klasik, masa pergerakan nasional dan masa modern sekarang. Dalam satuan waktu kaum jin yang rata-rata berumur ratusan sampai ribuan tahun manusia, kurun waktu tiga periode di atas tentulah pendek saja adanya. “Jehenna” sendiri adalah sebuah kata yang berasal dari Syiria yang berarti “jahanam.

Melihat tema yang mistik dan mungkin terkesan horor ini, di antara kalangan pembaca barangkali ada yang bertanya dan menerka; jangan-jangan novel ini sama saja halnya dengan cerita-cerita hantu lain yang galibnya disukai orang-orang. Memang, dari segi sejarah kesusasteraan, cerita hantu atau novel-novel mistik yang mengeksplorasi mitologi alam gaib, jadag lelembut, alam jin, supranaturalitas pernah meramaikan dunia perbukuan kita, terutama pada dekade 80-90 an. Kita mungkin masih ingat novel-novel stensilan dengan tema di atas yang seringkali nama pengarangnya adalah nama samaran. Marga.T, seorang penulis kisah asmara populer pun ternyata pernah menulis tema demikian dalam beberapa edisi novelnya.



Banyak kalangan dari kritikus sastra yang mengkategorikan novel cerita hantu sebagai sastra ringan/populer. Dari segi kebahasaan, novel-novel itu memang datar-datar saja, tidak mengalami sofistikasi dan estetisasi bahasa yang njlimet. Dan segi penceritaan pun, novel horor stensilan itu tidak memiliki pesan moral yang mendalam.

Namun lain hal nya dengan novel mistik “Jehenna” ini. Dengan dialog yang subtil dan intens, konflik antara jin dan insan (manusia) pun bisa dieksplorasi sampai pada sisi nilai yang dalam; bahwa keberadaan mahluk gaib supranatural bukan sekedar keseraman-keseraman bentuk yang tanpa arti, melainkan juga memiliki peran yang penting dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Dari segi kebahasaan, novel ini cenderung puitis dan cukup peka akan perimaan.

Ini adalah suatu terobosan menarik. Sebab, bagaimanapun jika melihat realitasnya, kepercayaan mistik masih menjadi sesuatu yang kental dalam fikiran masyarakat kita, dari desa sampai kaum urban kota. Apa yang menjadi kesadaran publik, haruslah terus digali dan disikapi dengan nalar yang baik. Bisa dibilang, “Jehenna” adalah suatu usaha pencarian jalan baru dalam menarasikan mitologi mistik masyarakat kita. Sementara, pada kebanyakan pengarang dan penulis, tema-tema semacam ini banyak dihindari, karena bisa terjebak ke dalam nuansa artifisial yang kurang mengindahkan substansi nilai mistisistme Islam.

Di dunia Barat, urban legend semacam kisah hantu “Bloody Mary”, “Dracula”, atau “Bogeyman” terus direproduksi dan dinarasikan ulang lewat film dengan perbaikan yang ketat di sana-sini. Ini menjadikan dongeng yang semula picisan itu menjadi memiliki sisi lain yang patut dipertimbangkan dalam menafsirkan alam bawah sadar masyarakat urban perkotaan di Amerika. Reproduksi dan penarasian ulang menjadikan urban legend bergeser dari sekedar dongeng ringan menjadi sebentuk artefak ketaksadaran kolektif dari masyarakat yang mempercayainya.

Sudut pandang penceritaan yang memposisikan Jin sebagai narator adalah satu kekuatan penceritaan novel ini. Selama ini, hampir semua novel-novel pop mistik sebelum Jehenna selalu memposisikan mahluk gaib sebagai sesuatu yang asing, alienatif dan sesuatu yang hadir sebagai teror tanpa alasan terhadap dunia manusia. Dalam Jehenna, Jin justru ditampilkan sebagai sosok yang memiliki kesadarannya sendiri. Suara tokoh jin dan manusia yang saling berjalin kelindan dalam setiap sudut narasinya, menciptakan ketegangan yang detail dalam setiap sudut kisahnya. Konflik yang padat inilah yang membuat novel unik ini menegangkan dari awal sampai akhir.

Personifikasi jin menjadikan kehadiran alam gaib/alam lelembut itu terasa makna antropologisnya. Kehadiran jin sebagai penggoda manusia juga erat kaitannya dengan alam bawah sadar manusia dalam novel ini. Tentunya hal ini membuka peluang bagi Jehenna untuk ditafsirkan pada banyak sisi dalam kaitannya dengan mitos dan alam bawah sadar masyarakat kita yang notabene percaya akan adanaya alam gaib.

Membaca novel ini, anda tidak akan merinding takut sebagaimana halnya menonton film-film horor di televisi, tetapi menjadi lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan dalam keseharian kita.

(Sumber: Koran Merapi, 9 Januari 2011)

*)Ridwan Munawar, Mahasiswa Psikologi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 07 November 2010

JEHENNA, Sebuah Novel Super Imajiner

                                 
JUDUL      : JEHENNA, Sahasia  Sebuah Kekuatan Impian
Pengarang  : Yusuf AN
Penerbit     : Diva Press, Yogyakarta (November 2010)

“Jehenna adalah novel yang berani mengambil risiko. Ia menawarkan tema yang pada kebanyakan penulis selalu dihindari, karena ketakutannya dianggap artifisial. Dunia halus, alam lelembut, dengan segala bentuk keanehannya memang riskan dituliskan, tapi di tangan penulis yang tepat, ia bisa menjadi kekuatan dan daya tarik yang luar biasa. Dan, Jusuf A.N. secara meyakinkan bisa melakukannya.” (Joni Ariadinata, cerpenis, redaktur majalah sastra Horison).

“Sebuah novel yang penuh kisah aneh dan tak terduga, membuat pembaca penasaran untuk terus membacanya hingga tamat.” (Ahmadun Yosi Herfanda, redaktur sastra harian Republika).

Jin mendapat izin Allah untuk menyesatkan manusia. Inilah kisah anak manusia yang jatuh bangun melawan godaan Sang Penyesat. Sangat menarik. (Ahmad Tohari, Penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk)
 
Jehenna nama jin itu. Ia telah bersumpah menyesatkan manusia, membalaskan dendam atas kematian kakeknya di tangan Umar, pengikut Muhammad. Namun, ia justru jatuh cinta pada Zaitun, jin muslim dari Mesir. Ia pun turut berlayar ke Jawa guna mengikuti keluarga gadis pujaannya yang hendak berdakwah di Jawa.

Di tanah Jawa inilah, Jehenna bertemu dengan Rijal, pemuda yang diselubungi cahaya doa orang tuanya. Jehenna teringat akan sumpahnya. Dan, Rijal adalah target utamanya!